Minggu, 13 Maret 2016

SMS Siswa Tak Biasa : Mood Booster Pra PPG


Tak terasa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) sudah di depan mata. Itu artinya hampir delapan bulan sudah saya meninggalkan tempat tugas sebagai peserta SM-3T Angakatan IV. Tapi entah kenapa delapan bulan tersebut tidak mengurai sedikit pun ingatan akan kenangan pengalaman luar biasa  di Kupang NTT. Bahkan rasa kangen semakin menebal setiap harinya. Betul nyatanya, walau setahun saya di sana tapi akan menginspirasi selamanya. 

Kupang, tempat dimana saya banyak menimba ilmu baru. Tak sekedar ilmu tentang persekolahan saja yang saya dapat, tapi yang terpenting adalah ilmu hidup yang begitu bermanfaat. Pantaslah jika saya tidak akan lupa dengan Kupang. Bahkan PPG yang insyaAllah akan saya jalani pun merupakan berkat yang Allah SWT berikan dengan perantara Kupang. 

Beberapa hari ini saya terheran-heran. Kenapa siswa-siswa di Kupang sana mengirimi saya SMS tidak seperti biasanya. Baik dari jumlah siswa yang mengirim SMS maupun konten dari SMS itu sendiri. Mungkin ini yang disebut kebetulan, saya sedang merindukan dan mereka pun mengungkapkan hal yang sama. Rasa syukur pun bertambah karena saya mendapatkan SMS dari siswa-siswa yang sebelumnya belum pernah sama sekali SMS. Kabar gembira dan kabar buruk pun saya dapat dari mereka.


Dokumentasi Pribadi

Senin, 11 Januari 2016

Antara Peningkatan Kompetensi dan Sarana Prasarana (Sebuah Pendapat)

Awal tahun 2016 berita seputar dunia pendidikan cukup membanggakan hati. Pemerintah melalui kementrian yang terkait telah mempublikasikan capaiannya selama tahun 2015. Sebagai contoh kementrian pendidikan dasar maupun pendidikan tinggi yang sama-sama merilis semakin meningkatnya Angka Partisipasi Kasar (APK) masyarakat dalam pendidikan. Semoga dengan semakin meningkatnya APK ini akan dibarengi dengan semakin meningkatnya kualitas SDM bangsa kita.

Saya mempunyai pendapat cukup sederhana, dengan semakin meningkatnya kualitas SDM maka kompetensi seseorang pun akan semakin meningkat. Kompetensi inilah yang akan mempengaruhi baik tidaknya seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Ketika para guru sudah bergelar sarjana maka kompetensi mereka dalam mengajar akan semakin meningkat, termasuk berbagai profesi lainya. Kalau masyarakat kita sudah tinggi pendidikannya, tapi tidak mempunyai kompetensi dibidang pendidikannya tersebut, maka ada masalah dengan sistem pendidikan kita.

Ilustrasi (Doc : hrdmanagement.wordpress.com)


Mari apresiasi pemerintah kita yang sudah kerja keras meningkatkan kualitas SDM rakyat Indonesia dengan berbagai program pendidikannya yang bergitu beragam. Ada jalur formal dan informal. Salah satu program yang saya acungi jempol yaitu program pembiayaan pendidikan yang cukup besar. Salah satu program tersebut yaitu beasiswa untuk pendidikan tinggi. Maka kita sudah tidak asing lagi dengan Bidik Misi untuk beasiswa sarjana dan LPDP untuk pasca sarjana. Harapannya semakin tinggi pendidikan, maka semakin tinggi kompetensi masyarakat Indonesia.

Minggu, 20 Desember 2015

Jangan Jadi Guru Tidak Belajar

Salah satu tugas seorang guru adalah mengajar. Yaitu kegiatan transfer ilmu dari guru kepada muridnya. Disini, guru berperan sebagai  sumber ilmu bagi para muridnya. Siswa memerlukan guru untuk bisa tumbuh menjadi insan yang berilmu dan cerdas. Sehingga wajar jika posisi guru cukup bergengsi.

Adakalanya sebagian guru menjadi angkuh saat memposisikan diri sebagai sumber ilmu bagi muridnya. Keangkuhan ini tercermin dari tingkah lakunya. Salah satu contohnya yaitu merasa sudah cukup ilmu sehingga mereka tidak meningkatkan ilmu dan pengetahuannya. Mereka menganggap kompetensi  yang dimiliki saat ini sudah cukup mumpuni dalam menjalankan tugas. Sehingga mereka beranggapan bahwa  murid lah yang harus belajar kepadanya. Padahal dari waktu ke waktu ilmu baru bermunculan. Tidak jarang ilmu pengetahuan yang didapat dari teori lama semakin hari semakin tidak terpakai karena sudah tidak relevan. Tergantikan oleh penemuan-penemuan baru.

Memang betul guru adalah sumber informasi dan tempat belajar bagi muridnya. Tapi sebenarnya dalam hal mencari ilmu, posisi guru dan murid itu sama sekali tidak berbeda bahkan sejajar. Murid harus selalu mencari ilmu baru yang belum dia ketahui. Begitu pun dengan guru, yang juga harus selalu mencai ilmu baru. Tidak ada alasan berhenti mencari ilmu baru bagi seseorang walau pun sudah menjadi seorang guru. Tugas mencari ilmu disini tidak memandang siapa, kapan dan dimana. Semua wajib selalu mencar ilmu. Hal ini selaras dengan agama kepercayaan saya yang mewajibkan mencari ilmu sepanjang hayat.

Dokumen Pribadi

Guru yang merasa sudah pintar dan sudah tidak merasakan lagi pentingnya mencari ilmu baru baginya, justru sudah melanggar kewajiban sebagai seorang guru. Guru dituntut agar bisa memotivasi murid untuk selalu belajar dan jangan sampai berhenti belajar. Nah tugas memotivasi ini akan semakin besar ruhnya ketika guru tersebut tidak berhenti belajar. Bagaimana mungkin seseorang menyuruh orang lain untuk mandi sedangkan dirinya sendiri tidak mandi. Sudah barang tentu tidak akan ada yang mendengarkan suruhannya tersebut. Murid bisa merasakan ruh motivasi gurunya tersebut. Semakin besar ruhnya, semakin besar pula bisa dirasakan oleh para murid. Begitu pun sebaliknya.

Sabtu, 07 November 2015

Pare : Ribuan Impian Ada Disini

Halo apa kabar ? maaf baru menyapa lagi, sekarang saya sedang disibukan dengan aktivitas di Kediri. Lama tak ada tulisan baru, sekarang saya akan mencoba membagikan pengalaman saya berada di Kediri Jawa Timur. Pengalaman seputar SM-3T nya masih akan ada kok, tapi sekarang saya akan membagikan pengalaman di luar itu dulu. Dan insyaAllah tetap menginspirasi dan bermanfaat.

Sebulan sudah saya berada di Kediri Jawa Timur, tepatnya sekarang sedang berada di Pare. Siapa yang tidak tahu Pare? Pasti kalian tahu Pare karena sebutan Kampung Inggrisnya. Yap sekarang saya sedang di Kampung Inggris dan tentunya untuk saat ini saya sedang tidak menjadi guru, tapi menjadi murid yang belajar (lagi) bahasa asing yang dipakai sebagai bahasa pengantar Internasional. Selain untuk mengisi waktu sebelum memasuki program pasca SM-3T, saya punya alasan lain untuk datang ke Pare ini. Alasan yang paling kuat dalam diri ini yaitu karena saya merasa sama sekali belum bisa dalam bahasa asing ini dan saya merasa saat ini penting untuk bisa menguasainya .


Sedikit tergopoh-gopoh dalam belajar bahasa inggris, itu yang sedang saya rasakan saat ini. Bahasa asing ini sudah terlalu lama saya campakan dari jaman kuliah dulu, sehingga untuk mengenalinya kembali saya perlu usaha yang tidak mudah. Saya merasa tidak akan bisa menguasai bahasa ini dalam waktu yang saya targetkan, tapi tak apalah yang penting saya sudah mencoba dengan memulai daripada hanya diam saja. Untungnya kesulitan saya dalam belajar bahasa asing ini bisa banyak tertolong dengan lingkungan yang sangat mendukung untuk terus dan terus berlatih. Ternyata itulah salah satu alasan yang menjadikan Pare sebagai Kampung Inggris banyak didatangi oleh orang-orang dari luar daerah seperti saya. Bahkan tidak sedikit orang yang datang ke Pare ini adalah orang jauh diluar pulau sana, bahkan orang luar negeri. Di Kampung inggris ini tidak akan ditertawakan atau dicibir sok pakai bahasa inggris dimana pun dan kapan pun, semua orang akan menganggap biasa saja. Kalian mau terus berlatih untuk berbicara bahasa inggris di tempat kos, di warung, di mesjid bahkan dipinggir-pinggir jalan, semua orang disini akan menganggap biasa. Kalian pun bisa menyapa setiap orang dengan memakai bahasa inggris.


Jumat, 02 Oktober 2015

Sekolah Pengorbanan : Kelas Jauh E Oelbiteno



Huaa akhirnya tulisan sekarang akan membagikan cerita tentang kelas jauh terakhir yang didirikan oleh SMPN 1 Fatuleu Tengah. Setelah membahas ke 4 kelas sebelumnya dengan berbagai tanggapan dan komentar yang sangat beragam, tulisan sekarang yaitu Kelas Jauh E Oelbiteno. Semoga dapat memberikan manfaat positif bagi kita semua.  Komentar dan saran masih selalu saya buka dengan pintu selebar-lebarnya lhoo. Karena apalah arti semua ini tanpa kalian para pembaca.... :D

Bagi yang belum baca kelas-kelas sebelumya bisa dilihat di sini
Kelas A di sini, kelas B di sini, Kelas C di sini dan Kelas D di sini.


Sekolah Pengorbanan : Kelas Jauh E Oelbiteno

Kelas Jauh E Oelbiteno ini lagi-lagi didirikan dengan maksud dan tujuan yang begitu mulia, yaitu menyelamatkan siswa lulusan SD agar mereka tidak putus sekolah dengan alasan jarak yang jauh menuju ke sekolah. Kelas Jauh E yang kurang lebih berjarak 3 Km dari kelas Induk ini, saat saya bertugas sebagai peserta SM-3T baru memiliki satu angkatan (Angkatan pertama) seperti Kelas Jauh D Nunsaen. Jumlah siswa kelas E ini tidak banyak, hanya berjumlah 12 siswa dengan perbandingan siswa perempuan lebih sedikit dari siswa laki-laki. Semua siswa ini merupakan lulusan dari SD Kristen GMIT Oelbiteno yang merupakan salah satu SD tertua di Kecamatan Fatuleu Tengah.

Kelas E Oelbiteno ini harus banyak melalui pengorbanan agar keberlangsungan sekolah terus berlajut. Saat saya pertama kali mengunjungi kelas jauh ini, kondisi sarana dan prasarana sama sekali tidak memadai. Kelas tempat mereka belajar meminjam dari kelas yang tidak terpakai milik SD Kristen GMIT Oelbiteno yang  kondisinya sangat tidak layak pakai, mirip seperti gudang tua lapuk dan tidak aman dipakai. Karena kelas E ini angkatan pertama maka sarana meja bangku belajar pun harus disediakan oleh siswa sendiri melalui swadaya orang tua. Untuk memenuhi kebutuhan guru pun orang tua siswa harus membayar iuran komite perbulannya, maklum guru di kelas E Oelbiteno ini semua berstatus guru honorer.

Kondisi Kelas E Oelbiteno Saat Pertama Kali Saya Berkunjung

Jumat, 25 September 2015

Sekolah dari Kesadaran : Kelas Jauh D Nunsaen dan Puisi-nya


“Bantu kami di sini Pak ya, ajari anak-anak disini karena disini masih kurang guru. Kasian kalau anak-anak harus jalan kaki jauh ke kelas induk sana” Ujar Ibu Amalia Baitanu,S.Pd (Koordinator Kelas D Nunsaen) saat pertama kali saya mengajar di sana.

Saya mendapatkan tugas mengajar di kelas jauh ke tiga yang didirikan SMPN 1 Fatuleu Tengah, Kelas D Nunsaen. Kelas jauh yang berjarak kurang lebih 4 Km dari kelas induk ini baru berdiri ditahun ajaran 2014-2015. Berarti ini adalah angkatan pertama bagi kelas jauh D Nunsaen. Siswa angkatan pertama ini berjumlah 20 siswa dengan perbandingan jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki, siswa laki-laki hanya 6 orang saja. Saya mengampu mata pelajaran PKn sehingga hanya memerlukan satu hari dalam seminggu untuk mengajar di kelas jauh ini. Bagaimana dengan akses jalan ke kelas jauh ini? sudah pasti akses jalan disana rusak. Untuk kali pertama saya ke kelas jauh D Nunsaen saja saya harus banyak menyesuaikan dengan jalan yang naik turun bukit dan diperparah jalan yang rusak. Jalan menuju kelas jauh D Nunsaen ini terbuat dari semen yang hanya ada di kiri kanan jalan saja sedangkan bagian tengahnya tidak disemen, orang Fatuleu Tengah biasa menamainya dengan jalan rabat. Kalau musim hujan susahnya setengah mati untuk dilewati karena licin dan berlumpur juga. 

Perjalanan Menuju Kelas D Nunsaen

Kelas jauh ini patut diapresiasi karena didirikan dengan dasar kesadaran warga akan pentingnya pendidikan. Fatuleu Tengah yang sedang berkembang memaksa anak-anak harus terus lanjut sekolah. Kalau masih ada yang beralasan jarak yang jauh menuju sekolah maka dapat dibantah dengan segera karena sekolah sudah didekatkan dengan rumah warga. Saat itu untuk kelas VIII dan IX masih harus bersekolah dikelas induk walau jarak 4 Km harus mereka lalui setiap harinya dengan jalan kaki. Kesadaran warga untuk menyekolahkan anaknya pun bisa dilihat dengan partisipasi orang tua akan kebutuhan sekolah sudah cukup bagus, baik iuran komite maupun pengadaan sarana dan prasana sekolah seperti bangku dan meja belajar siswa. Sedangkan untuk lokasi sekolahnya kelas jauh D Nunsaen ini menggunakan kelas yang tidak terpakai milik SD Inpres Nunsaen.

Jumat, 18 September 2015

Sekolah di Ujung : Kelas Jauh C Naimnasi

Haloo... apa kabar? :D

Akhirnya menjelang tepat satu bulan berada di kampung halaman kembali, saya bisa berbagi cerita lagi melalui tulisan. Bukan main ternyata membiasakan agar biasa menulis dengan teratur. Selain karena disibukan dengan wara-wiri dan obrol sana sini bersama saudara, sahabat dan teman yang ingin mendapatkan cerita dari Kupang sana, tekad untuk menulis memang belum terlalu poll. (Hehe Maaf)

InsyaAllah sekarang dan selanjutnya saya akan selalu membagikan cerita dalam bentuk tulisan dengan rutin. (Doa’in aja ya) 

Saat ini saya akan  membagikan satu cerita dari sekiaaaannn banyak cerita yang saya bawa dari Kupang sebagai peserta SM-3T Angktan IV.  Tulisan paling terakhir mengulas kelas jauh pertama yang dimiliki oleh SMPN 1 Fatuleu Tengah yaitu Kelas B Nonbaun (baca di sini). Karena SMPN 1 Fatuleu Tengah mempunyai 4 kelas jauh maka dengan menjunjung tinggi rasa keadilan saya akan mengulas semua kelas jauh tersebut (hehe Alay dikit). Oke saya lanjut dengan Kelas Jauh C Naimnasi.

Kelas jauh kedua yang dibuka setelah kelas B Nonbaun adalah kelas C Naimnasi. Kelas jauh ini merupakan kelas jauh terjauh dari kelas induk dari sisi lokasi. Dusun Naimnasi masih merupakan daerah yang berada di wilayah hukum Desa Nonbaun Kecamatan Fatuleu Tengah. Luas wilayah desa di Fatuleu Tengah sangat jauh berbeda dengan yang ada diperkotaan pada umumnya. Luas wilayah satu desa di Fatuleu Tengah bisa mencapai tiga bahkan empat kali luas di wilayah satu desa diperkotaan. Dan Naimnasi ini tepat berada di ujung wilayah Desa Nonbaun dan juga ujung dari wilayah Kecamatan Fatuleu Tengah.

Foto Bersama Siswa Kelas Jauh C Naimnasi