Selasa, 23 Juni 2015

Hari Kelulusan "Hari Kebanggaan Untuk Mereka"

Hari Kelulusan
“Hari Kebanggaan untuk Mereka

“Guru sudah merasa bahagia ketika melihat muridnya mencapai kesuksesan” itulah ungkapan yang dulu sering saya dengar dari guru-suru saya jauh sebelum saya menjadi seorang guru. Dan saat ini saya telah merasakan ungkapan itu dengan sebenar-benarnya.

Hari itu selasa 10 juni 2015 adalah hari pengumuman kelulusan bagi siswa kelas IX di SMPN 1 Fatuleu Tengah. Hari dimana siswa akan mengetahui hasil jerih payah mereka dalam menempuh pendidikan selama tiga tahun lamanya. Pagi hari sebelum acara dimulai saya sedikit meyakinkan mereka kalau mereka akan menerima hasil yang terbaik. Namun tetap saja sebagian dari mereka masih terlihat begitu cemas karena takut tidak lulus. Melihat raut wajah kecemasan mereka saya teringat akan diri saya sendiri sepuluh tahun lalu. Ketika saya masih dibangku kelas tiga SMP (sekarang sebutanya kelas IX) yang sama-sama cemas menanti hasil kelulusan. Ah lucunya membayangkan diri sendiri saat itu.

Tahun ini di SMPN 1 Fatuleu Tengah siswa kelas IX berjumlah 42 siswa, yang terdiri dari Kelas A (Induk) 31 siswa dan Kelas Jauh B Nonbaun yang berjumlah 11 siswa. Siswa beserta orang tua siswa sudah siap mendengarkan hasil kelulusan sejak pagi hari. Terlebih untuk siswa dan orang tua siswa kelas jauh B Nonbaun yang mana jarak antara Kelas Induk dengan Kelas Jauh tersebut lebih dari 15 Km. Sudah pasti mereka berangkat subuh sekali agar datang tepat waktu di Kelas Induk dan bersiap mendengarkan hasil kelulusan.


Tepat jam 11.00 WITA acara di mulai dan dipandu langsung oleh saya. Ruang kelas yang digunakan sudah penuh sesak oleh siswa, orang tua siswa, komite sekolah dan guru-guru. Semua terlihat begitu cemas karena hasil kelulusan masih belum mereka ketahui. Acara pun segera dimulai. Diawali dengan menyebut kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, yang sudah pasti doa pembuka acara ini dipimpin oleh agama mayoritas di sini Kristen Protestan.

Menjadi Pemandu Acara
Acara demi acara mulai terlewati dan akhirnya sampailah microfon ke tangan kepala sekolah, tanda pengumuman kelulusan akan segera dibacakan. Sebelum ke inti pengumuman kelulusan, kepala sekolah mengawalinya terlebih dahulu dengan himbauan-himbauan dan motivasi untuk siswa dan juga untuk orang tua siswa. Kepala sekolah pun menekankan akan pentingnya melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya yaitu SMA. Kata kepala sekolah orang tua disini memang harus sedikit ditakut-takuti agar mau mendaftarkan anaknya ke SMA yaitu dengan dikenakan denda sebesar 5 juta rupiah bagi siswa yang tidak melanjutkan sekolah ke tingkat SMA. Bukan hanya itu, apabila ada siswa yang ingin melanjutkan sekolah diluar wilayah Kecamatan Fatuleu Tengah maka akan dikenakan denda 1 juta rupiah. Aturan denda ini sudah legal karena merupakan Peraturan Desa yang berada diwilayah Kecamatan Fatuleu Tengah.  Walaupun nampak kejam tapi tujuan Perdes ini mulia, agar sekolah di Fatuleu Tengah tidak kosong dan anak-anak daerah bisa lebih pintar dengan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.

Kepala Sekolah Mengumumkan Hasil Kelulusan

Tibalah saatnya kepala sekolah mengumumkan hasil kelulusan, dengan lantang dan jelas ia menyatakan ada 5 siswa yang tidak lulus; 3 siswa dari Kelas A Induk dan 2 Siswa dari Kelas Jauh B Nonbaun. Sesaat itu terlihat jelas wajah suram para siswa dan orang tua siswa duduk tak tenang karena takut mereka lah yang terkena sial tidak lulus. Dengan sedikit meluapkan emosinya kepala sekolah menceramahi siswa dan orang tua agar harusnya mereka menjadikan belajar sebagai keseharian yang utama. Untuk orang tua siswa kepala sekolah menekankan jangan terlalu banyak membebankan pekerjaan rumah kepada siswa sehingga belajarnya terganggu. Terlebih nasihat diberikan kepada siswa karena mereka harus rajin, rajin dan lebih rajin lagi dalam belajar. Mereka tertunduk malu dan masih tetap dengan rasa gundah; saya kah yang tidak lulus itu.

Panjang lebar ceramah disampaikan kepala sekolah. Dengan nada yang agak sedikit pelan lalu mengucap syukur dan memuji kebesaran Tuhan. Kepala sekolah meralat hasil ketidak lulusan kelas IX tahun ini. Dengan sedikit berteriak kepala sekolah mengumumkan bahhwa seluruh siswa kelas IX LULUS. Sontak decak kegembiraan dan ucapan syukur diruangan semakin terdengar jelas. Dan pada saat itu pula dengan sendirnya air mata saya jatuh tanpa ada perintah.

Dalam keadaan terduduk dikursi bersebelahan dengan guru PNS Anasias Tios, S.Pd air mata kegembiraan sekaligus kebanggan tak bisa terbendung. Tak hanya air mata saja tapi dihati pun ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Mungkin ini lah yang dirasakan guru-guru saya dulu ketika melihat saya sebagai siswa berhasil dinyatakan lulus dibangku sekolah. Rasa bahagia karena keberhasilan siswanya, rasa bangga karena bisa mengantarkan siswanya kegerbang pintu pendidikan yang lebih tinggi selanjutnya dan rasa cinta kepada siswanya yang akan pergi dari sekolah tempat dimana guru bekerja setiap harinya.

Bersama Salah satu Guru PNS dari Tiga Guru PNS yang bertugas di SMPN 1 Fatuleu Tengah
Ditengah rasa haru yang sedang saya rasakan, kulihat siswa-siswa kelas IX pun menunduk menutupi air mata meraka yang ikut jatuh pula. Sudah pasti meraka bahagia karena berhasil melawati jenjang pendidikan tingkat SMP. Saat memandang mereka, terasa begitu jelas perjuangan mereka dalam menempuh pendidikan itu tidaklah mudah. Ditengah–tengah masih begitu minimnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan, fasilitas belajar yang sangat kurang, jarak yang jauh antara rumah dan sekolah serta pekerjaan rumah yang begitu banyak karena harus mengurusi ternak dan kebun dirumah. Mereka masih berjuang agar tetap sekolah dan akhirnya mencapai keberhasilan dengan dinyatakan lulus. Ternyata siswaku begitu tangguh dalam berjuang untuk bisa lulus sekolah.

Suasana haru pun semakin tambah semarak dengan ucapan terima kasih kepala sekolah kepada dewan guru, kulihat mereka satu persatu menitikan air mata kebahagian juga. Guru-guru hebat luar biasa yang mengantarkan siswanya ke gerbang kelulusan, guru-guru honor yang telah mengabdi bertahun-tahun dengan segala keterbatasan penghargaan yang mereka peroleh. Guru-guru penuh dedikasi berjuang memajukan daerah agar tidak disebut lagi daerah tertinggal. Guru asli putra daerah yang tak banyak menuntut pada pemerintah walau ikut melaksanakan tujuan negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Suasana Di Dalam Ruang 

Pengumuman kelulusan pun selesai dengan diakhiri jabat tangan antara siswa dengan guru dan orang tua, saya pandangi satu-persatu siswa saya selama kurang dari satu tahun ini. Saat berjabat tangan tidak sedikit siswa yang masih terlarut dalam suasan suka cita kelulusan. Kubisikan doa semoga meraka menjadi insan yang berguna bagi daerah kelahiran asal kelahiran mereka ini, bagi nusa dan bangsa.

Selamat untuk kalian siswa-siswa ku dan terima kasihku untuk guru-guru yang telah mengantarkan mereka ke gerbang kelulusan.


Naifalo, 23 Juni 2015.

06.50 WITA

1 komentar: