Hari Kelulusan
“Hari Kebanggaan untuk Mereka”
“Guru sudah merasa
bahagia ketika melihat muridnya mencapai kesuksesan” itulah ungkapan yang dulu
sering saya dengar dari
guru-suru saya jauh sebelum saya menjadi seorang guru. Dan saat ini saya
telah merasakan ungkapan itu dengan sebenar-benarnya.
Hari itu selasa 10 juni
2015 adalah hari pengumuman kelulusan bagi siswa kelas IX di SMPN 1 Fatuleu
Tengah. Hari
dimana siswa akan mengetahui hasil
jerih payah mereka dalam menempuh pendidikan selama tiga tahun
lamanya. Pagi hari sebelum
acara dimulai saya sedikit meyakinkan mereka kalau mereka akan menerima hasil
yang terbaik. Namun tetap
saja sebagian dari mereka masih
terlihat begitu cemas karena takut tidak lulus. Melihat
raut wajah kecemasan mereka saya
teringat akan diri saya sendiri sepuluh
tahun lalu.
Ketika
saya masih
dibangku kelas tiga
SMP (sekarang sebutanya kelas IX) yang sama-sama cemas menanti hasil
kelulusan. Ah lucunya
membayangkan diri sendiri
saat itu.
Tahun ini di SMPN 1
Fatuleu Tengah siswa kelas IX berjumlah 42 siswa, yang terdiri dari Kelas A (Induk) 31 siswa dan Kelas Jauh B Nonbaun yang
berjumlah 11 siswa.
Siswa beserta orang tua siswa sudah siap mendengarkan hasil kelulusan sejak pagi hari. Terlebih untuk siswa
dan orang tua siswa kelas jauh B Nonbaun yang mana jarak antara Kelas Induk dengan Kelas Jauh tersebut lebih dari 15 Km. Sudah pasti mereka berangkat subuh sekali agar
datang tepat waktu
di Kelas
Induk dan
bersiap mendengarkan hasil kelulusan.
Tepat jam 11.00 WITA acara di mulai dan
dipandu langsung oleh saya.
Ruang
kelas yang digunakan sudah penuh sesak oleh siswa, orang tua siswa, komite
sekolah dan guru-guru. Semua terlihat
begitu
cemas karena hasil kelulusan masih belum mereka ketahui. Acara pun segera
dimulai. Diawali
dengan menyebut kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, yang sudah pasti doa pembuka acara
ini dipimpin oleh agama mayoritas di sini
Kristen
Protestan.
| Menjadi Pemandu Acara |
Acara demi acara mulai
terlewati dan akhirnya sampailah microfon
ke
tangan kepala sekolah, tanda pengumuman kelulusan akan segera dibacakan.
Sebelum ke inti pengumuman kelulusan, kepala sekolah mengawalinya terlebih
dahulu dengan himbauan-himbauan dan motivasi untuk siswa dan juga untuk orang tua siswa. Kepala sekolah pun
menekankan akan pentingnya melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya yaitu SMA. Kata
kepala sekolah orang tua disini memang harus sedikit ditakut-takuti agar mau mendaftarkan
anaknya ke SMA yaitu dengan dikenakan denda sebesar 5 juta rupiah bagi siswa yang
tidak melanjutkan sekolah ke tingkat
SMA. Bukan hanya itu, apabila
ada siswa yang ingin melanjutkan sekolah diluar wilayah Kecamatan Fatuleu
Tengah maka akan dikenakan denda 1 juta rupiah. Aturan denda ini sudah legal
karena merupakan Peraturan Desa yang berada diwilayah Kecamatan Fatuleu
Tengah. Walaupun nampak kejam tapi
tujuan Perdes ini mulia, agar sekolah di Fatuleu Tengah tidak kosong dan
anak-anak daerah bisa lebih pintar dengan mengenyam pendidikan yang lebih
tinggi.
| Kepala Sekolah Mengumumkan Hasil Kelulusan |
Tibalah saatnya kepala sekolah
mengumumkan hasil kelulusan, dengan lantang dan jelas ia menyatakan ada 5 siswa
yang tidak lulus;
3 siswa dari Kelas
A Induk dan 2 Siswa dari Kelas
Jauh B Nonbaun. Sesaat
itu terlihat jelas wajah suram para siswa dan orang tua siswa
duduk tak tenang karena takut mereka lah yang terkena sial tidak lulus. Dengan sedikit meluapkan emosinya kepala sekolah
menceramahi siswa dan orang tua agar harusnya mereka menjadikan belajar sebagai
keseharian yang utama. Untuk orang tua siswa kepala sekolah menekankan jangan
terlalu banyak membebankan pekerjaan rumah kepada siswa sehingga belajarnya
terganggu. Terlebih nasihat diberikan kepada siswa karena mereka harus rajin,
rajin dan lebih rajin lagi dalam belajar. Mereka tertunduk malu dan masih tetap
dengan rasa gundah;
saya kah yang tidak lulus itu.
Panjang lebar ceramah
disampaikan kepala sekolah.
Dengan
nada yang agak sedikit pelan lalu mengucap syukur dan memuji kebesaran Tuhan. Kepala sekolah meralat hasil ketidak
lulusan kelas IX tahun ini. Dengan sedikit berteriak kepala sekolah mengumumkan
bahhwa seluruh siswa kelas IX LULUS. Sontak decak kegembiraan dan ucapan syukur
diruangan semakin terdengar jelas. Dan pada saat itu pula dengan sendirnya air
mata saya jatuh tanpa ada perintah.
Dalam keadaan terduduk
dikursi bersebelahan dengan guru PNS Anasias Tios, S.Pd air mata kegembiraan
sekaligus kebanggan tak bisa terbendung. Tak hanya air mata saja tapi dihati
pun ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Mungkin ini lah yang dirasakan guru-guru saya dulu ketika melihat saya sebagai
siswa berhasil dinyatakan lulus dibangku sekolah. Rasa bahagia karena
keberhasilan siswanya, rasa bangga karena bisa mengantarkan siswanya kegerbang
pintu pendidikan yang lebih tinggi selanjutnya dan rasa cinta kepada siswanya
yang akan pergi dari sekolah tempat dimana guru bekerja setiap harinya.
| Bersama Salah satu Guru PNS dari Tiga Guru PNS yang bertugas di SMPN 1 Fatuleu Tengah |
Ditengah rasa haru yang
sedang saya rasakan, kulihat siswa-siswa kelas IX pun menunduk menutupi air
mata meraka yang ikut jatuh pula. Sudah pasti meraka bahagia karena berhasil
melawati jenjang pendidikan tingkat SMP. Saat memandang mereka, terasa begitu
jelas perjuangan mereka dalam menempuh pendidikan itu tidaklah mudah.
Ditengah–tengah masih begitu minimnya
kesadaran
orang tua akan
pentingnya pendidikan, fasilitas belajar yang sangat kurang, jarak yang jauh
antara rumah dan sekolah serta pekerjaan rumah yang begitu banyak karena harus
mengurusi ternak dan kebun dirumah. Mereka masih berjuang agar tetap sekolah dan akhirnya
mencapai keberhasilan dengan dinyatakan lulus. Ternyata siswaku begitu tangguh dalam berjuang untuk bisa lulus sekolah.
Suasana haru pun
semakin tambah semarak dengan ucapan
terima
kasih kepala sekolah kepada dewan guru, kulihat mereka satu persatu menitikan
air mata kebahagian juga. Guru-guru hebat luar biasa yang mengantarkan siswanya
ke gerbang kelulusan, guru-guru honor
yang telah mengabdi bertahun-tahun dengan segala keterbatasan penghargaan yang mereka
peroleh. Guru-guru penuh dedikasi berjuang memajukan daerah agar tidak disebut lagi daerah tertinggal. Guru
asli putra daerah yang tak banyak menuntut pada pemerintah walau ikut melaksanakan
tujuan negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
| Suasana Di Dalam Ruang |
Pengumuman kelulusan
pun selesai dengan diakhiri jabat tangan antara siswa dengan guru dan orang
tua, saya pandangi satu-persatu
siswa saya
selama
kurang dari satu tahun ini. Saat berjabat tangan tidak sedikit siswa yang masih
terlarut dalam suasan suka cita kelulusan. Kubisikan doa semoga meraka
menjadi insan yang berguna bagi daerah kelahiran asal kelahiran mereka ini, bagi nusa dan bangsa.
Selamat untuk kalian
siswa-siswa ku dan terima kasihku
untuk
guru-guru yang telah mengantarkan mereka ke
gerbang
kelulusan.
Naifalo, 23 Juni 2015.
06.50 WITA
Keren kisahna... aslinaa
BalasHapus